Dahsyatnya  Digital Economy dalam Kancah Ekonomi Dunia

 Dahsyatnya  Digital Economy dalam Kancah Ekonomi Dunia

Indonesia menyimpan pangsa pasar ekonomi yang sangat potensial. Tidak hanya tumbuh besar di dalam negeri, pasar ekonomi Indonesia masih menggiurkan bagi investor asing. Salah satu kekuatan untuk bisa menjadi pesaing di era saat ini untuk bidang pembangunan ekonomi adalah pengggunaan digital economy atau e-economy berbasis penggunaan Information and communication Technology (ICT).

Istilah digital economy sudah ada sejak tahun 1995 oleh Don Tapscott lewat bukunya yang meraih best seller berjudul Digital Economy – Promise and Peril in The Age of Networked Intelligence. Buku ini menunjukkan bagaimana penggunaan internet mengubah cara kita melakukan bisnis.

Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam sambutannya yang dibacakan Staf Khusus Menkominfo Ir Lies Sutjiati MBA. Tema digital economy merupakan tema besar yang sampai beberapa tahun lalu masih merupakan wacana yang mungkin bahkan belum lengkap kerangka pendekatannya.

“Namun hari-hari ini tiba-tiba saja kita dihadapkan langsung pada fenomena-fenomena yang mencengangkan dan bahkan menciptakan “chaos” dalam perangkat pengaturannya,” ujarnya di depan wisudawan dan wisudawati Sarjana Ekonomi Prasetiya Mulya di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City.

Salah satu fenomena paling menonjol dalam ranah digital economy adalah electronic commerce atau dikenal dengan e-commerce. Bahkan e-commerce hampir identik dengan e-economy atau digital economy karena melibatkan gaya hidup sehari-hari dan paling dominan mendayagunakan mode digital economy yang tersedia. Total transaksi e-commerce di Indonesia pada tahun 2014 mencapai  12 miliar dolar AS.

Angka ini meningkat hampir 50 persen dibanding tahun 2013, dan diperkirakan akan terus meningkat di masa depan. Indonesia merupakan pasar yang potensial dengan 54 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada tahun 2013 dengan pertumbuhan rata-rata 40 persen per tahun. Sementara itu, ada sekitar 100 juta pengguna internet, 70 juta di antaranya mengakses dari telepon genggam pintar. Untuk itulah, Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan dukungan para pelaku industri kreatif, mencanangkan misi mencetak 1.000 pengusaha teknologi pada tahun 2020 dengan total valuasi USD 10 miliar.

Menurut Prof Djisman Simandjuntak, digital economy menjadi sangat penting dalam persaingan dunia dewasa ini namun  Indonesia perlu mengejar habis-habisan dan persiapan Prasetiya Mulya berbeda dari perguruan tinggi lainnya. “Dari segi e-economy, dari segi platform saya pikir tidak masalah. Rakyat Indonesia cukup kreatif membuka bermacam-macam  platform. Tidak  hanya dari Indonesia sendiri namun dari luar juga. Namun dari segi payment system kita harus mengejar banyak. Kita tahu digital economy tidak bisa bergerak, kecuali payment system juga mendukung. Payment yang aman dan mudah diterima di seluruh dunia, tidak hanya dari dalam negeri saja. Pelaku bisnis bisa melakukan dengan cepat dari infrastruktur atau broadband-nya,” jelas Djisman.

Prof Djoko Wintoro, Ketua STIE Prasetiya Mulya mengatakan persaingan desain ekonomi menjadi tantangan yang lebih sulit. Tidak hanya terbatas persaingan jasa dan produksi saja. “Perang ekonomi dan yang bisa memenangkannya kalau bisa menguasai desain ekonomi. Perubahan besar yang harus kita hadapi  bagaimana kita juga harus kuat untuk main flow, tidak lagi root flow. Sudah bergeser ruang persaingan untuk semua orang.”

Salah satu lulusan terbaik untuk Program S1, Cynthia Indayani Limin, SE dengan IPK 3,96 memilih jurusan Konsentrasi Bisnis Manajemen di Prasetiya Mulya. Menurut gadis kelahiran 16 April 1993 ini, yang membedakan Prasetiya Mulya dengan kampus lainnya karena dunia praktik lebih banyak diaplikasikan dibanding teori. “Tidak mudah memang bisa meraih lulusan dengan peringkat Cum Laude terbaik. Apalagi di Prasetiya Mulya, butuh kerja keras,”  ujar Cynthia yang kini menggeluti karier dalam industri konsultan di PT Boston Consulting Group dan sekaligus menjalani bisnis produksi tas.

Hal senada juga dikatakan Andi Wahjudi MM. Lulusan terbaik dengan IPK 3,9 dan karyawan Coca Cola Amatil Indonesia ini sengaja memilih Prasetiya Mulya untuk Program Magister Manajemen, karena memberikan program komprehensif dibanding kampus lainnya.  “Apa yang saya dapat di Prasetiya Mulya saya coba aplikasikan dengan ilmu saya di kantor. Jadi melengkapi apa yang sudah saya praktikkan di kantor,” jelasnya.

info@telescopemagz.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *