Bogor Street Festival Cap Go Meh

 Bogor Street Festival Cap Go Meh

Telescopemagz.com -Setelah Tahun Baru Imlek, masyarakat Tionghoa biasa melanjutkan perayaan hari raya dengan Cap Go Meh. Perayaan Cap Go Meh pasca-Imlek memang sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Perayaannya diwarnai dengan lampu-lampu lampion.Perayaan Cap Go Meh 2571 yang jatuh pada Sabtu (8/2/2020) lalu juga digelar meriah oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI.  Bahkan Festival Cap Go Meh di DKI sudah diadakan sejak Kamis (6/2/2020) hingga Minggu (9/2/2020).

Pada hari Kamis (6/2/2020), Festival Cap Go Meh diselenggarakan di lima lokasi, yakni di depan Grand Hyatt, Dukuh Atas, Terowongan Kendal, Depan FX Sudirman, dan Thamrin City. Acara sendiri dimulai sejak pukul 17.00 WIB – 19.00 WIB dan dilanjutkan pada pukul 19.30 WIB-21.00 WIB. Beberapa kesenian daerah ditampilkan di antaranya nan feng, ondel-ondel, wushu, kecapi, dan diakhiri dengan screening film.

“Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Dewa Thai Yi sendiri dianggap sebagai Dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han.”

Anonim

Lanjut ke hari kedua, Festival Cap Go Meh diadakan di lokasi dan jam yang sama. Namun kesenian yang ditampilkan sedikit berbeda, di hari Jumat ini diisi oleh music oriental dan gratia ondel-ondel, wayang poyeti, nan feng, ondel-ondel, dan diakhiri oleh screening film.

Hari berikutnya  perayaan Cap Go Meh dipusatkan di dua tempat yaitu di Thamrin 10 dan di kawasan Pecinan, Pasar Glodok. Dan puncaknya digelar di Jl. Pancoran, Pinangsia-Pasar Glodok, Jakarta Barat.

Festival Cap Go Meh juga hadir pada Minggu (9/2/2020) di area Car Free Day dengan menampilkan pertunjukkan barongsai dan liong. Sementara malam harinya dilanjutkan screening film yang diadakan di Thamrin 10.

Tergelarnya perayaan Festival Cap Go Meh diharapkan mampu mengeratkan kembali rasa persaudaraan antar warga di Jakarta.  Secara tak langsung, perayaan Cap Go Meh ini juga menjadi destinasi hiburan dan kesenian guna mengisi akhir pekan bersama keluarga.

Hormati Leluhur 

Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”.

Jika diartikan kata per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam.  Perayaan Cap Go Meh atau Perayaan Lampion ini tidak hanya dirayakan di Indonesia saja. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga ikut merayakan hari raya ini. Di negara Tiongkok, festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuanxiao  atau Festival Shangyuan.

Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Dewa Thai Yi sendiri dianggap sebagai Dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han (206 SM – 221 M). Dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut sistem penanggalan kalender Imlek. Upacara ini dahulu dilakukan tertutup hanya untuk kalangan istana dan belum dikenal secara umum oleh masyarakat Tiongkok.

Dan kebanyakan upacara ini dilakukan pada malam hari. Karenanya perlu disiapkan penerangan dengan lampu-lampu lampion yang dipasang sejak senja hari hingga keesokan harinya. Inilah yang kemudian menjadi lampion-lampion dan aneka lampu berwarna-warni yang menjadi pelengkap utama dalam perayaan Cap Go Meh.

Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir, perayaan ini menjadi lebih terbuka untuk umum. Saat Tiongkok dalam masa pemerintahan Dinasti Tang, perayaan ini juga dirayakan oleh masyarakat umum secara luas. Festival ini adalah sebuah festival dimana masyarakat diperbolehkan untuk bersenang-senang.

Saat malam tiba, masyarakat akan turun ke jalan untuk menikmati pemandangan lampion berbagai bentuk yang telah diberi berbagai hiasan.

Di malam yang disinari bulan purnama sempurna, masyarakat akan menyaksikan tarian naga (masyarakat Indonesia mengenalnya dengan sebutan ‘Liong’) dan tarian Barongsai. Mereka juga akan berkumpul untuk memainkan sebuah permainan teka-teki dan berbagai macam permainan lainnya, sambil menyantap sebuah makanan khas bernama Yuan Xiao atau Wedang Ronde.Yuan Xiao sendiri adalah sebuah makanan yang menjadi bagian penting dalam festival tersebut. Yuan Xiao atau juga biasa disebut Tang Yuan adalah sebuah makanan berbentuk bola-bola yang terbuat dari tepung beras. Yuan Xiao mempunyai arti ‘malam di hari pertama’. Makanan ini melambangkan bersatunya sebuah keluarga besar yang memang menjadi tema utama dari perayaan Hari Imlek.

Perayaan Festival Cap Go Meh di Indonesia sendiri sangat bervariasi. Perayaan biasanya dilakukan oleh umat kelenteng-kelenteng dan Wihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya sambil menggotong ramai-ramai Kio/Usungan yang didalamnya diletakkan arca para Dewa.Bahkan di beberapa kota di tanah air seperti di daerah Jakarta dan di Manado, terdapat atraksi ‘lokthung‘ atau ‘thangsin‘ dimana ada seseorang yang menjadi medium perantara yang konon setelah dibacakan mantra tertentu dipercaya telah dirasuki oleh roh Dewa untuk memberikan berkat bagi umat Nya.

Mereka biasanya akan melakukan beberapa atraksi sayat lidah, memotong lengan atau menusuk bagian badannya dengan sabetan pedang, golok, dan lain sebagainya. Sementara di Kalimantan, tepatnya di kota Pontianak dan Singkawang, atraksi ini disebut ‘Tatung.

Teks Fajar / Foto : Istimewa)

 

info@telescopemagz.com

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *