Keakuratan Statistik Tiongkok Soal Klaim Keberhasilan Covid-19 Dipertanyakan

 Keakuratan Statistik Tiongkok Soal Klaim Keberhasilan Covid-19 Dipertanyakan

Foto : Ist

Telescopemagz.com – Di tengah makin gentingnya keadaan negara di luar China menghadapi wabah pandemi Covid-19, justru di negeri asal mula terjadinya Covid-19 di Wuhan, China, mulai menampakkan keberhasilan dalam penanganan Covid-19.

Dikutip dari New York Times, China saat ini tengah menuai keberhasilan dalam upaya mereka berjuang keras menangani Covid-19. Selama proses panjang yang dimulai dari sekitar bulan Desember 2019, saat wabah terendus media, hingga saat ini korban akibat Covid-19 sudah sangat banyak. Baik ribuan nyawa yang melayang, hingga perekonomian yang anjlok.

Pekan lalu, China menyatakan tidak ada infeksi lokal baru untuk pertama kalinya sejak krisis Covid-19. Tiga bulan sudah China berjuang memerangi wabah mematikan ini. Sementara Amerika Serikat, Italia, dan sejumlah negara lainnya sedang bergulat dengan pandemi bglobal ini.

China tengah berselebrasi dan memuji keberhasilannya mengalahkan penyakit dari asalnya sendiri. Bila ternyata angka nol kasus itu lebih dari sekadar kesalahan statistik, maka ini menunjukkan lika-liku pemerintah China selama ini. Mulai dari dianggap tidak becus dan sembunyikan angka infeksi sesungguhnya sampai dikira salah mengelola wabah.

Bahkan mereka menghukum dokter-dokter yang berusaha meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Salah langkah, itu yang bisa dikatakan para kritikus terhadap apa yang terjadi di Wuhan mulai dari tiga bulan silam. Ibukota Provinsi Hubei ini dinilai sebagai episentrum Covid-19 baik di China maupun di dunia.

Adanya kenyataan bahwa penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini berasal dari pasar ikan laut yang menjual hewan liar di Wuhan. Pemerintah akhirnya melakukan antisipasi lockdown atau penguncian pertama akibat wabah Covid-19 di dunia.

Upaya yang dilakukan Beijing tidak lepas dari anggapan yang menilai lockdown sebagai eksperimen ekstrem dalam ukuran dan cakupan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meski bertujuan untuk menurunkan angka infeksi, namun harus dibayar dengan trauma orang-orang dan ekonomi yang terpuruk. Sejauh ini wabah Covid-19 sudah menewaskan 3.245 orang di China, jumlah ini adalah sepertiga dari total kematian dunia.

Rabu lalu delapan pasien tewas dan semuanya berasal dari Provinsi Hubei. Hubei menjadi area yang paling menderita wabah mematikan asal Wuhan ini. Lebih dari 50 juta orang ditempatkan di bawah penguncian ketat atau lockdown sejak akhir Januari.

Sementara tingkat kematian di sana mencapai 4,6 persen, beberapa kali jadi yang tertinggi di antara daerah lainnya di daratan China.

Nol infeksi lokal bukan berarti tak ada kasus baru

Sebenarnya China belum bisa dikatakan terlepas dari bahaya penularan dan ketidakstabilan yang terjadi kembali. Kini berbagai pihak menanyakan keakuratan statistik Tiongkok. Sebab nol infeksi lokal bukan berarti tidak akan ada nol kasus baru. China sendiri telah mengakui saat ini mereka mengalami tantangan infeksi impor dari pelancong maupun orang China dari luar negeri.

Buktinya pada Kamis lalu, pemerintah mengumumkan 34 kasus baru dari warga lokal yang baru pulang dari luar negeri. Fakta ini menunjukkan China sekalipun sulit menahan virus ini sepenuhnya.

Sehingga kini menimbulkan pertanyaan baru, apakah China akan kembali terpuruk setelah penangguhan perjalanan ke sana dicabut. “Sangat jelas bahwa tindakan yang diambil di China hampir mengakhiri gelombang infeksi pertama mereka,” kata Ben Cowling, Kepala Divisi  Epidemiologi dan Biostatistik di Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong.

“Pertanyaannya adalah apa yang akan terjadi jika ada gelombang kedua. Karena jenis tindakan yang telah diterapkan Cina belum tentu berkelanjutan dalam jangka panjang,” tambahnya. (Ar/berbagai sumber)

 

 

Redaksi

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *