“Seribu Bayang Purnama”: Di Balik Derita Tani, Ada Cinta Bersemi
Jakarta, Telescopemagz l Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Namun film yang mengangkat kisah pertanian masih bisa dihitung jari. Diproduksi oleh Baraka Films “Seribu Bayang Purnama” lahir dari keresahan para petani yang harus berjibaku dengan mahalnya biaya produksi.
“Pada kenyataanya banyak sekali kendala yang dihadapi oleh para petani saat mereka melakukan produksi,” kata sutradara “Seribu Bayang Purnama” Yahdi Jamhur. “Mulai dari tingginya biaya bibit, pupuk, belum lagi kesulitan untuk mendistribusikan hasil pangan serta juga tidak stabilnya harga jual produk pangan mereka.”
Sejak lama Yahdi sadar masalah yang menimpa petani ketika bikin konten di Nusa Tenggara Timur. “Kami melihat dari dekat apa saja yang harus dilalui petani untuk bisa memulai produksi, ini membuat saya tergerak menuangkan itu pada media film,” ungkap sutradara dan founder Baraka Film ini.
Yahdi menuturkan bahwa filmnya menyodorkan kehidupan petani dengan sinematografi indah serta cerita yang relevan. Proses produksi digelar akhir September 2024 lalu dan kini masuk tahap pasca produksi.
Bergenre drama percintaan, skenarionya ditulis oleh Swastika Nohara yang juga merangkap sebagai Ko-Sutradara di film ini. Sementara pemain yang terlibat ada Marthino Lio, Givina, Nugie, Whani Darmawan, Aksara Dena, Joanna Diah hingga Hargi Sundari.
Jalan ceritanya mengupas konflik yang terjadi antara dua keluarga, yakni keluarga Budi (diperankan oleh Nugie) serta anaknya Putro (Marthino Lio). Di seberang sana ada keluarga Gatot (Whani Darmawan) dan anaknya, Dodit (Aksara Dena). Penyebab permusuhan itu lantaran beda prinsip dalam Bertani.
Lewat filmnya, Yahdi mencoba membawa penonton untuk melihat lebih dekat masalah yang mereka hadapi. “Tapi pada akhirnya mereka harus tetap berusaha, agar bisa menghasilkan sesuatu untuk menjalankan hidup.”
So, tunggu aja tanggal mainnya deh. (bat)