Adaptasi dari Film Pendek “Lintrik Ilmu Pemikat” Kisahkan Ilmu Pelet Gaya Banyuwangi

 Adaptasi dari Film Pendek “Lintrik Ilmu Pemikat” Kisahkan Ilmu Pelet Gaya Banyuwangi

Jakarta, Telescopemagz I Budaya Indonesia tak pernah habis untuk diangkat ke layar lebar. Paling baru ada “Lintrik Ilmu Pemikat” yang berlatar tradisi Banyuwangi karya sutradara Irham Acho Bahtiar. Film yang dibuat oleh Prama Gatra Film dan Rumah Semut ini siap meramaikan bioskop tanah air di tahun 2025.

“Lintrik itu tidak jauh dari pelet,” urai Acho dalam konferensi pers di Kafe Bajawa, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis 5 Juni 2025. “Namun lintrik berbeda dengan pelet yang bisa langsung dari orang ke orang…”

Lintrik, ucapnya, harus dilakukan melalui perantaraan dukun perempuan dengan ritual tertentu dan ekstrem. “Salah satunya dia mengelilingi kuburan dalam keadaan telanjang bulat,” lanjut Acho lagi.

Konon lintrik punya keunggulan yaitu keampuhannya melampaui batas negara.”Dia bisa membuat orang yang di luar negeri balik (ke si pengirim). Jadi keampuhannya bisa menyeberang batas negara,” seloroh sineas kelahiran Merauke, Papua ini.

Gagasan membuat film ini berawal dari produser Prama Gatra Film, Asye Siregar. Pada akhir 2022, dia melihat film pendek “Lintrik – Janakim Series” karya putra Banyuwangi di channel YouTube. Atas nama etika berkarya, Asye mengajak para kreator tersebut berkolaborasi.

“Mereka ikut menjadi konsultan budaya, memastikan elemen tradisi, dan Bahasa Osing tampil otentik dalam film versi layar lebar,” kenang Acho seraya memastikan keterlibatan seniman lokal di dalam proyeknya.

Film “Lintrik” bukan kisah horor biasa, melainkan drama psikologis yang mengangkat tradisi mitos ilmu pelet Jawa kuno berlatar budaya Banyuwangi. Di jajaran pemain ada aktor Donny Damara, Yatti Surachman, Akbar Nasdar, Meisya Amira, Karina Icha, hingga Teguh Ryder. Juga ada seniman lokal seperti maestro tari Gandrung Mak Temu Misti dan Mas Yon DD, yang tampil berbahasa Osing, khas Banyuwangi.

Proses syuting sekitar 25 hari, dengan lokasi di Banyuwangi dan Jakarta. Tim produksi juga mendapat kesempatan merekam festival budaya Banyuwangi dan ditampilkan dalam film. Lokasi lain yang ikonik ada Hutan De Djawatan, hingga Patung Terakota.

Wah, jadi penasaran nih bakal sekeren apa filmnya. (bat)

Fajar Irawan

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *